Senin, 07 November 2016

"LUPA"

Entah aku yang terlalu mencintaimu, atau diriku ini menyukai rasa sakit yang kualami karena tak bisa memilikimu..
Kurang lebih seperti itulah arti dari sebuah ungkapan yang pernah kubaca di sebuah jejaring sosial.
Saat membaca ungkapan ini, aku tertawa di dalam hati. Bergumam kepada diri sendiri, ‘ah, barangkali ungkapan ini sangat cocok dengan apa yang terjadi saat ini’.
Kadang terpikir sendiri olehku, barangkali aku ini adalah seorang masochist, kelainan kejiwaan yang penderitanya menyukai ‘penyiksaan’ yang dilakukan oleh orang lain kepada dirinya.
Bagaimana tidak? Aku menyadari dalam hati, bahwa aku masih saja memelihara rasa yang seharusnya sejak lama aku hapus dari hati. Padahal aku juga sangat menyadari bahwa keberadaan rasa ini sungguh membuat perasaan tidak nyaman.
Rasa ini masih saja berada di dalam hati ini semata-mata karena aku sendiri belum menemukan cara yang cocok untuk menghapusnya. Orang-orang di sekelilingku selalu nyinyir kepadaku.
Mereka berkata: ’sudahlah, lupakan saja’. Dalam hati aku menjawab: ‘Bukan hal yang gampang’
Atau, ‘cari saja yang lain’. Aku pun menjawab: ‘dimana?’, tentu saja aku mengucapkannya di dalam hati saja.
Jika mereka mengucapkan hal-hal senada, aku selalu menanggapi dengan senyum manis yang agak miris. (miris pun pasti akan tetap manis, karena memang sudah begitu adanya, -narsis sedikit tak apalah,hehe-)
Aku pun heran dengan pikiranku sendiri. aku ini tipe orang yang gampang lupa, bisa saja dengan gampang melupakan hal-hal yang seharusnya aku ingat, atau pun yang harus aku kerjakan. Jika aku lupa terhadap sesuatu, sering aku menjawab dengan kalimat, ‘Maaf, saya lupa, mohon diingatkan lagi’, atau ‘Astaghfirullah, saya lupa’. Karena memang aku benar-benar lupa, sungguh.
Sifat pelupa ini bukannya karena aku latah. Tapi memang sudah dari ‘pabriknya’ seperti itu. Untuk itu, aku sering membuatkan semacam catatan untuk mengingatkan tugas-tugas yang harus kulakukan.
Tapi ironisnya, untuk hal ini aku tidak bisa lupa. Aku ingat setiap kejadian. Meskipun kejadian itu hanya sebuah insiden kecil sekalipun. Aku tetap saja bisa mengingatnya. Tidak mendetil, tapi cukup jelas.
‘kenangan-kenangan’ ini hidup di pikiranku tanpa bisa aku hilangkan. Aku selalu berdoa: Tuhan, kirimkan seseorang yang dapat membuat kenangan-kenangan ini menjadi masa lalu yang benar-benar untuk dikenang tanpa ada rasa apa-apa, Tuhan, tolong kirimkan kepada hamba seseorang yang dapat menjadikan hari ini dan hari esok menjadi kenangan yang lebih pantas untuk dikenang di masa depan, kenangan yang lebih berharga.
 Aamiin.
Untuk kali ini, aku benar-benar ingin lupa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar